Serba - serbi

Penggunaan Teknologi Pasca Panen Padi Disesuaikan dengan Kualitas Panen

ilustrasi

Pacitan – Hal pertama yang membuat manusia tidak pernah puas adalah dengan adanya faktor kompetensi. Perasaan mampu untuk memecahkan masalah bergantung pada perkembangan intelektual, sosial dan emosional yang membuat seseorang tertantang untuk menjadi lebih baik lagi. Semakin meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka manusia akan mencari tahu semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya dan terus mencari tahu hal yang lebih baik dari sebelumnya.

Kebutuhan akan pemenuhan diri dilakukan melalui berbagai bentuk yaitu dengan mengembangkan potensi serta memperkaya kualitas kehidupan yang pastinya hal tersebut tidak terbatas seperti mengembangkan IPTEK.

Walaupun dalam masa Pandemi Covid-19 Tuhan Yang Maha Esa masih memberikan kenikmatan berupa hasil panen Padi.  Walaupun tidak sebagus jika dibandingkan dengan musim lalu.  Namun bagi Suwito sesuatu yang patut disyukuri disebabkan banyaknya serangan hama tikus dan penyakit saat pertumbuhan tanaman Padi sampai panen.

“Dulu para petani masih mempekerjakan orang untuk membantu mengolah sawahnya, namun sekarang telah muncul teknologi pertanian
seperti mesin-mesin pembantu pengolahan lahan,” ujar Aris, Jum’at (23/7/2021).

“Jika kita kalkulasikan untuk panen jika panennya bagus maka bisa gunakan akan mekanik mesin dengan bayar Rp.800.000,- untuk lahan yang luasnya 2000-2500 m2.  Jika kualitas panennya tidak bagus maka bisa dengan manual plus mesin dos,” jelas Aris.

“Hasil panen untuk musim panen tahun ini ada yang bagus dan tidak bagus.  Bagi yang kualitas panennya bagus lebih menguntungkan jika panennnya menggunakan mesin.  Namun bagi yang tidak bagus akan menyesuaikan dengan hasil panennya biasa gunakan untuk ngarit panenan di sawah gunakan tenaga manusia.  Untuk perontokkannya gubakan dos,” ujarnya.

Suwito, Jumat (23/7/2021) dengan menggunakan paduan antara untuk ngaritnya pakai tenaga manusia dan rontoknya pakai dos untuk lahan yang kualitasnya tidak bagus lebih menghemat biaya.  Untuk lahan 2000 – 2500 m2 habisnya 2 sak hasil panen berarti 2 x 200.000, = 400.000,- plus makan 100.000,- berarti biayanya RP. 500.000,-.

Semua mempunyai untung rugi dan tinggal praktiknya di lapangan disesuaikan dengan kondisi lahan pertanian. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button